Apakah Agama Hindu Mendiskriminasi Wanita Haid masuk ke Pura?

Menurut theologi Hindu, Tuhan/Hyang Widhi itu bersifat “Wyapi wayapaka nirwikara“, yang artinya Tuhan ada dimana-mana, namun tidak terpengaruh oleh yang ada. Hal senada pun dinyatakan dalam kitab Svetra Upanisad VI.II, menguraikan sebagai berikut:

Eko dam saroa bhutesu gudas
Sarva vyapi saiva bhintantar-atma
Karmadhyaksas sarva bhuta drivassas
Saksi ceta kevalo nirgunasca.

Artinya:

Tuhan yang tunggal sembunyi (ada) pada semua makhluk,
Menyusupi segala inti hidupnya semua mahluk,
Hakim semua perbuatan yang berada pada semua makhluk,
Saksi yang mengetahui, yang tunggal, bebas dari kualitas apapun.

Merujuk pada sumber kitab suci di atas, jelaslah bahwa Tuhan itu tidak akan terpengaruh oleh yang ada di dunia ini (termasuk ciptaan-Nya), Tuhan terbebas dari kualitas apapun. Jadi demikian bagaimanpun kondisi kita, suci ataupun cuntaka, datang bulan ataupun tidak, itu tidak akan berdampak apapun terhadap keberadaan Tuhan yang maha suci. Tuhan tidak akan terpengaruh oleh unsur-unsur duniawi. Jika demikian jelaslah terjawab bahwa bagaimanapun kondisi kita, aktivitas sembahyang (Tri Sandhya) itu tetap dapat dan wajib dilakukan, dan jika dalam keadaan cuntaka tentu dengan tidak mengunjungi tempat suci (Pura)

Lantas mengapa perempuan yang sedang cuntaka tidak boleh datang ke pura?

Hal ini disebabkan yaitu oleh karena orang yang cuntaka adalah orang yang dalam keadaan tidak seimbang dalam dirinya. Ketidak seimbangan diri itu dapat menimbulkan vibrasi buruk. Vibrasi buruk ini dapat merusak vibrasi orang lain yang sedang berada di tempat suci untuk mengupayakan memunculkan vibrasi suci dalam dirinya guna dapat menghubungkan diri dengan Tuhan yang maha suci, dan dikhawatirkan pula nantinya dapat berpengaruh vibrasi kesucian dari tempat suci yang dikunjungi oleh orang yang sedang dalam keadaan cuntaka tersebut.

Karena itu ke tempat-tempat suci pemujaan umum tidak dibolehkan guna menghindarkan vibrasi buruk tersebut mempengaruhi orang lain dan mempengaruhi vibrasi kesucian tempat suci, Jadi, adanya larangan bagi perempuan yang sedang dalam masa menstruasi tidak ada hubungannya dengan ‚Äúdeskriminasi”, orang yang sedang cuntaka tetap dapat melakukan sembahyang sebagaimana mestinya walau dengan tidak mengunjungi pura (karena alasan diatas). Hal ini berkaitan dengan teori bahwa ada dua cara  memuja Tuhan yaitu Niwerti Marga dan Prawerti Marga. Dimana dalam keadaan cuntaka seyogyangnya aktivitas sembahyang dilakukan dengan jalan Niwerti Marga yakni memuja Tuhan dengan jalan ke dalam diri, dalam artian melakukan pemujaan dengan manasa japa, mengulang-ulang mantra suci dalam hati.

Sumber : Warta Hindu Dharma NO. 523 Juli 2010

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *